Kamis, 04 Juli 2013

Renungan Pendidikan : Konsep Kompetisi & Komersialisi

0 komentar

Artikel ini menyadarkan saya betapa destruktifnya efek yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan yang mengadopsi konsep kompetisi & kapitalisme/komersialisasi. Ga usah di Indonesia, di Amerika, bahkan mungkin di Jepang pun, sistem pendidikannya memakai konsep kompetisi & komersialisi.




Dampak buruknya sangat gampang ditemukan di keseharian kita, di diri saya pribadi, di orang-orang sekeliling saya. Salah bentuk akibat sistem yang destruktif.

Belajar sistem kebut semalam. Menghafal super lengkap dan banyak. Habis ujian, lupa! Ga ada ilmu yang didapet, ga dapat esensinya. Lulus, nilai tinggi, cari kerjaan mengandalkan gelar, tapi ilmu kopong…
Yang pintar 'harus' masuk fakultas kedokteran lah, engineering lah. Yang biasa aja, harus masuk ini lah. Yang 'bego', pilihan terbatas. 
Yang anak ga boleh ikut les dan ikut lomba tarilah, karena bikin capek, ganggu konsentrasi belajar. 
Yang anak ga boleh jadi atlet, karena menguras energi, ganggu konsentrasi sekolah. 
Yang si anak ga boleh jadi zoologist lah, karena dinilai tidak menguntungkan. Mending jadi engineer lah. Beneran, saya punya teman, bercita-cita menjadi penjaga kebun binatang atau penjaga konservasi binatang, entah sebagaizoologist atau dokter hewannya. Sungguh mulia bukan. Tapi dilarang sm orang tuanya karena 'dianggap' tidak profitable & tidak punya masa depan yang cerah. Sampai dibilang ‘ntar kamu nikah sama gorila’ -__-"

Semuanya karena mau ngejar memenuhi standar, cetakan cetakan cetakan!Standar/Cetakan absurd! Cetakan duit… 

Kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia dan Amerika itu gagal karena sistem ini mencoba membuat suatu cetakan bagi anak didik, bukan membiarkan anak didik berkembang maksimal sesuai potensinya masing-masing. Yang ditekankan pada pendidikan bukanlah suatu konsepsi pengetahuan, tapi struktualisasi sistem pendidikan dan hasil didikan. 




Sistem pendidikan di negara, seperti Indonesia dan Amerika, itu ironis karena saking kapitalisnya sampai lupa kenapa sistem komunis tumbang. Sistem komunis tumbang karena terlalu banyak komando dan tidak membiarkan warga dan struktur-struktur di dalamnya berkembang dengan bebas 

Nah, sistem pendidikan "kapitalis" ini ironis karena system ini berusaha untuk "mencetak" kemampuan berdasarkan sistem pasar. Sistem ini menafikan kenyataan bahwa tiap anak itu terlahir dengan keinginan dan selera yang berbeda-beda. Dalam sistem pendidikan kapitalis yang gagal ini, semua anak apapun inputnya, outputnya harus bisa disamaratakan.




Pendidikan itu tidak bisa seperti kita membangun gedung, di mana struktur-struktur ditancapkan dalam balok-balok yang tidak berhubungan dan diharapkan dapat berdiri tegak dari bebannya saja, layaknya orang meletakkan beton di bangunan. 

Para pendidik kuno memiliki sebuah konsepsi bahwa anak-anak itu "tabula rasa", sebuah kertas putih kosong yang siap di tuliskan. Padahal, kenyataanya anak-anak itu kertas berwarna yang sudah tergambar pola di atasnya, tidak bisa langsung asal corat-coret saja, sering jadi tidak bermakna nantinya (via Thomas Adi Nugroho Chaidir). 

Berikut salah satu potret pendidikan jaman sekarang. Satu kelas terdiri dari siswa gajah, ikan, burung, monyet, dan lain-lain. Eh, ujian disuruh manjat pohon, biar adil katanya.


"Supaya adil, semua siswa harus mengikuti ujian yang sama. Panjat pohon itu."



Jelas, siswa 'monyet' akan unggul. Sistem ini menafikan fakta bahwa tiap siswa itu memiliki bakat, minat dan potensi yang unik. Sistem ini hanya memberikan perhatian pada siswa bintang. Siswa lain yang tidak bisa keep up (mengikuti), dibiarkan berusaha sendiri. Ditambah lagi, ujian standar/cetakan umum bertubi-tubi yang absurd yang hanya ngena ke bakat/potensi siswa 'monyet'. Siswa 'gajah' mana bisakeep up. 

Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik.Ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur utk memenuhi cetakan, mereka dapat menghasilkan performa terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengn bakat mereka. 

Tujuan pendidikan seyogianya dapat membentuk siswa menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai diri mereka sendiri dan dapat bernavigasi dalam kehidupan tanpa berpikir bahwa mereka lebih 'pintar' atau sebaliknya, tidak berharga. 

Siapa yang tahu kalo si anak ternyata berpotensi menjadi ilmuwan/zoologist terkenal, jadi atlet berprestasi, menjadi penari duta negara. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi PNS malas yang kerjanya makan duit rakyat. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadinobody (bukan siapa-siapa) as in pekerja kantoran yang mengubur potensi gemilangnya di balik meja kantor. 

Anak punya cita-cita tuh didukung dan dibimbing. Ini belum apa-apa sudah diteror "ntar kamu nikah sama gorila". Dari kecil aja mental anak udah dihancurkan.

*** 

Nah, dampak negatif lain dari bentukan sistem gagal ini adalah realita bahwa banyak orang benci pekerjaannya. Banyak yang merasa ke-trap (terjebak) dengan pekerjaannya sekarang. 

Artikel ini cocok dibaca bagi yang sedang mengalami krisis identitas karir. Hehehe. Artikel ini juga cocok dibaca dan jadi bahan renungan bagi orang tua yang peduli dengan pendidikan dan masa depan anaknya. 

Saran saya kepada orang tua: Jangan didik anakmu untuk menjadi kaya, tapi didiklah anakmu untuk menjadi happy, bahagia :) Sehingga ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan menghargai value (nilai/esensi) sebuah hal, bukan menilai dari harganya. 





Kenapa mendidik anak untuk bahagia menjadi penting? Mengutip perkataan Richard Branson (pendiri Virgin Group): "Parameter terbaik untuk mengukur kesuksesan? Kebahagian... Lakukanlah hal yang membuatmu senang, lakukan dengan baik, dan uang akan datang."











Untuk Kritik, Saran, dan Keluhan silahkan layangkan lewat post komentar dibawah ini, Thanks!

0 komentar:

Poskan Komentar